Melangkah dengan iman (07 Januari 2026)

Dalam Yosua 3:13 “Maka segera sesudah telapak kaki para imam yang mengangkat tabut TUHAN itu berjejak ke dalam air, terputuslah air yang mengalir dari hulu.”. Hidup bersama Tuhan sering kali dimulai dengan satu perintah yang terasa tidak masuk akal: melangkah sebelum jalan terbuka. Bangsa Israel berdiri di tepi sungai Yordan yang meluap, dengan janji Tanah Perjanjian di depan mata, tetapi tanpa jembatan, tanpa perahu, tanpa kepastian manusiawi. Tuhan tidak lebih dulu membelah sungai itu. Ia menunggu langkah iman.

Di sinilah iman diuji. Banyak dari kita ingin Tuhan membelah sungai terlebih dahulu, baru kita berani melangkah. Kita ingin kepastian penuh sebelum ketaatan total. Namun Firman Tuhan menunjukkan pola yang berbeda: ketaatan mendahului mujizat.

Terus maju untuk Tuhan berarti berani melangkah meski hati masih bergetar. Bukan karena kita kuat, tetapi karena kita percaya kepada Dia yang setia. Iman bukanlah keberanian tanpa rasa takut, melainkan keputusan untuk tetap taat meski rasa takut belum sepenuhnya hilang.

Hari ini, mungkin ada “Yordan” di hadapanmu: keputusan sulit, panggilan yang menantang, perubahan yang tidak nyaman. Jangan menunggu semuanya sempurna. Jika Tuhan memerintahkan, maka langkah kecil dalam ketaatan sudah cukup untuk memulai karya besar-Nya.Terus maju bukan berarti tergesa-gesa, tetapi memilih tidak mundur. Tuhan bekerja melalui langkah iman yang sederhana namun tulus.