Amsal 22:17-29
“Pasanglah telingamu dan dengarkanlah amsal-amsal orang bijak, berilah perhatian kepada pengetahuanku.” (ayat 17)
Saat seorang anak acuh tak acuh terhadap teguran orangtuanya, ada kalanya orang tua menjadi marah dan menjewer telinga anak sambil berkata, “Di mana telingamu?”. Semua orang tahu apa kegunaan telinga, namun banyak orang yang tidak menggunakan fungsi telinga dengan baik sehinnga berakibat fatal.
Dalam nas kini, kita melihat seruan Salomo secara langsung, seolah-olah berbicara kepada seseorang secara pribadi. Ia berulang kali menekankan kegunaan telinga. Ia menasihati agar kita untuk sungguh-sungguh memasang telinga. Memasang telinga berarti menjadi tenang, tidak lekas gusar dan suka marah. Saat seseorang penuh perhatian terhadap pengetahuan dan selalu mendengar amsal para orang bijak, maka ia akan terbiasa berjalan dalam hikmat. Contohnya, menghormati hak milik perorangan, tidak memindahkan batas tanah dan mencuri tanah (ayat 22-23), tidak bergaul akrab dengan orang yang amarahnya meledak-ledak.
Tujuan memasang telinga antara lain:
Pertama, mendengar dan memperhatikan setiap ajaran (ayat 17).
Kedua, membawa kepada kepercayaan akan Tuhan (ayat 19).
Ketiga, mendatangkan kepuasan yang melimpah (ayat 18).
Keempat, supaya mengetahui apa itu kebenaran, mampu membedakan dengan jelas antara yang benar dan salah, hal mana menguntungkan diri dan orang lain (ayat 21).
Jika mau mendapatkan manfaatnya, maka kita harus mencerna, mempraktikkan, menaati, dan menyerahkan diri ke dalamnya untuk dibentuk.
Berapa banyak di antara kita yang memasang telinga tetapi tidak mendengar dan memperhatikan kata-kata hikmat? Semua pengajaran menjadi sia-sia karena sikap kita yang meremehkannya. Kita tidak bisa berkata seperti ini, “Semua perkataan itu baik, tetapi tidak ada artinya bagi kami.” Tidak! Marilah kita bercermin diri pada hikmat dan pengajaran. Pakailah hikmat dan ajaran tersebut saat kita berbicara maupun bertindak, maka ia akan mendatangkan nama baik bagimu. Amin
Tuhan Yesus memberkati