Rabu, 17 November 2021 Firman Yang Menjadi Daging

1 Yohanes 1:1-4
“Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu.” (ayat 1)

Pemikiran tentang Firman merupakan pemikiran tentang Pribadi yang besar bagi orang Yunani dan bagi orang Yahudi pada zaman Yohanes. Bagi orang Yahudi, Allah berkaitan erat dengan Firman. Mereka tahu bahwa Allah menyatakan diri-Nya di dalam Firman. Para filsuf Yunani selama berabad-abad telah membicarakan tentang Sang Logos/Firman, yang telah memulai dan terus berdaulat atas alam semesta. Meski filsuf-filsuf Yunani dan para rabi Yahudi berbicara tentang Firman Ilahi, tidak ada satu pun dari antara mereka yang pernah berkata tentang Firman yang menjadi manusia.

Maka Yohanes seolah mengatakan, “Firman yang telah kalian bicarakan dan tulis selama berabad-abad itu sesungguhnya telah kami dengar, lihat, dan raba!” (ayat 1). Dengan berkata demikian, Yohanes ingin menegaskan bahwa Firman itu sungguh-sungguh telah menjadi manusia. Dia nyata secara fisik sehingga Yohanes dapat memberikan kesaksian tentang Dia, sebagai seorang saksi mata (ayat 2). Kesaksian itu bukan dongeng, hasil rekaan atau imajinasi manusia, tetapi kisah nyata tentang hidup dan pelayanan Yesus.

Peranan Yohanes sebagai saksi tidak terbatas hanya menceritakan peristiwa yang terjadi. Ia juga perlu memaparkan makna dan signifikansi peristiwa tersebut. Dan bagi Yohanes signifikansi dari kisah Yesus dapat diringkas ke dalam satu kata: hidup. Yesus adalah Firman hidup atau Logos (ayat 1). Ia ada bersama-sama dengan Bapa di dalam kekekalan. Tujuan pernyataan Yohanes tentang kekekalan dan kehadiran Yesus, adalah untuk membawa pembacanya kepada persekutuan dengan umat Allah dan dengan Allah sendiri (ayat 3). Bila itu terjadi, sempurnalah sukacita Yohanes (ayat 4).

Apa yang menjadi sumber sukacita kita? Perolehan materi, hubungan baik, atau sesuatu yang lain lagi? Apakah kita memiliki kerinduan agar orang lain mengenal Allah? Marilah kita mengembangkan sukacita kita bukan hanya pada apa yang kita peroleh atau miliki, tetapi juga pada masuknya seseorang ke dalam persekutuan dengan Allah dan umat-Nya. Amin
Tuhan Yesus memberkati

Close Menu