Selasa, 16 September 2025 (Keteguhan Iman)

Daniel 1:6-17
” Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.” (ayat 8)

Iman yang teguh teruji dalam dua situasi, antara lain: Pertama, penderitaan yang hebat. Kedua, hidup yang nyaman dan membahagiakan, seperti: sehat, sukses, dan situasi lainnya yang dapat membuat seseorang merasa tidak perlu topangan orang lain.

Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya adalah beberapa orang di antara sekian banyak penduduk Israel yang dibawa ke Babel untuk dijadikan tawanan (ayat 6). Sebagai tawanan perang, mereka tidak memiliki kemerdekaan. Salah satu bentuk hilangnya kemerdekaan adalah penggantian nama. Misalnya, Daniel diubah menjadi Beltsazar, Hanaya menjadi Sadrakh, Misael menjadi Mesakh, dan Azarya menjadi Abednego (ayat 7). Nama baru itu disesuaikan dengan penamaan bangsa Babel. Nama baru itu mengacu pada nama para dewa Babel. Contohnya, nama Daniel yang berarti “Allah adalah hakimku” diubah menjadi Beltsazar yang artinya, “Bel melindunginya”.

Hidup di tanah pembuangan bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan, termasuk dalam hal menjalankan keyakinan. Orang-orang Israel hidup di tengah-tengah bangsa yang tidak percaya Tuhan yang Esa (monoteis). Di sini keteguhan iman mereka diuji. Contohnya, sebagai seorang yang takut akan Tuhan, Daniel berjuang untuk mempertahankan imannya. Sebagai seorang pembantu, ia berketetapan hati untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja (ayat 8). Ia tidak berupaya menutup-nutupi keyakinannya di hadapan banyak orang, termasuk kepada pimpinan pegawai istana. Iman Daniel pada Tuhan itu berbuah manis. Allah mengaruniakan kepadanya kasih sayang dari pemimpin istana (ayat 9). Meskipun ia tidak makan makanan sesuai standar istana, perawakan mereka lebih bugar (ayat 15). Selain itu, Allah mengaruniakan kepada keempat orang itu pengetahuan, kepandaian, dan hikmat (ayat 17).

Kegigihan Daniel menjaga imannya bukan perkara mudah. Ia berusaha untuk melakukannya dengan setia. Buah dari keteguhannya adalah dikasihi Allah dan sesama manusia. Di tengah situasi hidup yang beraneka ini, apakah kita mau berupaya memperjuangkan iman kepada Allah?
Amin, Tuhan Yesus memberkati